Blogroll

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 14 September 2014

Do'a niiiiihhh, Abu Nawas.

Abu Nawas adalah seseorang yang selalu memiliki cara untuk menjawab setiap pertanyaan dengan tepat. Bahkan, pertanyaan yang sama pun dapat dijawabnya dengan cara yang berbeda. Dan ada satu lagi yang diketauhi oleh sang guru bahwa Abunawas bisa menipu Tuhan.


Kisahnya:


Setelah para murid Abu Nawas mulai mengerti mengapa pertanyaan yang sama bisa menghasilkan jawaban yang berbeda.

Murid Abu Nawas bertanya lagi.

"Wahai guru, mungkinkah manusia bisa menipu Tuhan?" tanya muridnya.

"Mungkin." jawab Abu Nawas.

"Bagaimana caranya?" tanya si murid penasaran.

"Dengan merayuNya melalui pujian dan doa." jawab Abu Nawas.

"Ajarkan pujian dan doa itu padaku wahai guru." pinta muridnya.

Doa itu adalah:

Ilahi lastu lil firdausi ahla, walaa aqwa 'alan naril jahimi, fahabli taubatan waghfir dzunubi, fainnaka ghafiruz dzanbil 'adhimi"

Arti doa tersebut adalah:

"Wahai Tuhanku, aku ini sama sekali tidak pantas menjadi penghuni surgaMu, tetapi aku juga tidak tahan terhadap panasnya api neraka. Oleh sebab itu terimalah taubatku serta ampunilah dosa-dosaku. Karena sesungguhnya Engkaulah Dzat yang mengampuni dosa-dosa besar."

Mengobati Sakit dengan Telur Unta

Pada suatu hari, baginda raja sedang didera sakit. Tabib kerajaanpun sudah dikerahkan, namun tak sanggup menyembuhkan sakitnya. Raja pun akhirnya membuat sayembara berhadiah dan Abu Nawas pun tidak mau ketinggalan untuk mengikuti sayembara berhadiah besar tersebut.
    

Kisahnya

Suatu hari Raja Harun Al Rasyid terkena penyakit yang sangat aneh. Tubuhnya terasa kaku dan pegal semua. Suhu badannya panas dan dia tak kuat untuk melangkah. Kondisi ini membuat sang raja tak nafsu makan sehingga sakitnya bertambah parah. Bermacam tabib sudah pada berdatangan untuk mengobatinya, namun tetap saja masih sakit.

Namun raja tak mau menyerah begitu saja. Tekadnya untuk sembuh sangatlah besar. Raja pun akhirnya membuat sayembara, barang siapa dapat menyembuhkan raja, maka dia akan mendapat hadiah. Berita sayembara itu pun didengar oleh Abu Nawas, dan ia pun tertarik untuk mengikuti sayembara itu.

Maka, tak berapa lama kenudian, ia pun berpikir kersa, memutar otak sebentar, kemudian pergi ke istana dan menghadap Raja Harun Al Rasyid.

Penyakit Aneh

Sang raja sangat terkejut begitu melihat Abunawas dan menawarkan diri untuk mengobati.
"Wahai Abu Nawas, setahuku kamu itu bukan seorang tabib, tapi mengapa engkau mengikuti sayembara ini?" tanya sang raja heran.

Mendengar ucapan rajanya, Abu Nawas hanya tersenyum saja. Dia berhasil meyakinkan raja bahwa dia emiliki kemampuan untuk menyemnbuhkan orang yang sakit. Pada awalnya sih sang raja tidak percaya akan penjelasan Abu Nawas tersebut. Namun bukan Abu Nawas kalau dia tidak bisa meyakinkan lawan bicaranya.

Kemudian Abu Nawas mulai mengadakan observasi dengan menanyakan sakit dan kondisi raja.
"Aku juga tidak tahu, tetapi aku merasa bahwa rasanya seluruh tubuhku terasa sakit dan badanku panas. Aku merasa lesu," keluh raja.

Mendengar keluhan raja itu, Abu Nawas sontak saja tertawa lebar.
Tentu saja Sang Raja tersinggung oleh olokan Abu Nawas itu.
"Tidak Paduka, kalau penyakit seperti itu sih gampang sekali menemukan obatnya," jelas Abu Nawas.

Raja pun kaget dan menanyakan nama obat dan dimana raja bisa memperolehnya.
"Obat itu adalah telur unta, Paduka Raja bisa mendapatkannya di kota Baghdad," jelas Abu Nawas.

Sang Raja yang kepingin cepat sembuh ini sangatlah antusias sekali. Pada keesokan harinya, Raja mencari obat tersebut dengan ditemani oleh pengawal dengan memakai busana rakyat biasa agar tidak dikenali oleh rakyatnya. Dia pun engunjungi hampir seluruh pasar yang ada di kota Baghdad.

Namun mereka tidak kunjung juga menemukan telur unta yang dicarinya. Raja pun tetap mengelilingi kota walaupun pengawalnya sudah tampak kelelhan yang amat sangat. Sang Raja tampak menggerutu sambil berencana memberikan hukuman kepada Abu Nawas jika ia tak bisa menemukan obat itu.

Sebelum kembali ke istananya, raja melihat seorang kakek yang membawa ranting.
"Tunggu Kek, bolehkah saya bertanya sesuatu?" cegat Raja Harun.

Mana Ada Unta Bertelur

Setelah bertatap muka, raja merasa kasihan melihat kakek itu dan menawarkan diri untuk membawakan kayu-kayu tersebut sampai ke rumah kakek. Setelah sampai rumah dan berbasa-basi sejenak, raja pun menanyakan tentang telur unta kepada kakek itu.
"Telur unta?" si kakek kemudian berpikir sejenak lalu tertawa lebar.

Si kakek menjelaskan bahwa di dunia ini mana ada telur unta. Setiap hewan yang memiliki daun telinga itu melahirkan, bukan bertelur, jadi mana ada telur unta. Raja dan pengawalnya tersentak kaget mendengar penjelasan kakek itu. Raja sangat murka dan merasa dirinya telah dipermainkan oleh Abu Nawas.

Pada keesokan paginya raja segera memanggil Abu Nawas untuk menghadap.
"Hai Abu Nawas, berani sekali kamu mempermainkan aku, bukannya unta tidak bertelur?" ujar sang raja yang kesal.
"Betul, Paduka," jawab Abu Nawas.

Mendengar itu, raja memerintahkan untuk memberikan hukuman berat kepada Abu Nawas.
"Tunggu, sebelum menghukum, bagaimana kondisi kesehatan Paduka?" tanya Abu Nawas.
"Aku baik, tubuhku tidak lemas dan tidak pegal lagi," jawab raja.
"Berarti saya berhasil menyembuhkan paduka ya, dan saya berhak untuk mendapatkan hadiah sayembara itu," ujar Abu Nawas yang tersenyum dengan riang.

Abu Nawas niiihhh. .. .

 
 
Sebelum kita langsung ketopik ada baiknya kita mengenal dulu sosok pujangga besar ini Siapa sih Dia?Abu-Ali Al-Hasan bin Hani Al- Hakami (750-810)itu berarti beliau hidup kurang lebih dua kurun setelah zaman ke Nabian,Beliau biasanya dikenal sebagai Abū-awās atauAbū-Nuwās adalah seorang
pujangga Arab Dia dilahirkan di kota Ahvaz di negeri Persia, dengan darah Arab dan Persia mengalir di tubuhnya
Kisah kisah semasa hidupnya  selalu menjadi hikmah ,atau membuat orang tersenyum kegelian atau membuat kening berkerut karena heran dan sekaligus kagum akan kecerdasannya,seperti rangkuman kisah Beliau dibawah ini,dan inilah dia kisah abu nawas paling lucu

Abu nawas memindahkan istana keatas awan
 
Sore itu cuaca amatlah indah,awan putih bersih menggantung dicakrawala yang cerah,warna kemerahan lembayung mewarnai awan menarik perhatian siapa saja yang melihatnya
Tak terkecuali di dalam Istana,sang Raja Harun al rasyidpun ternyata sedang menikmati suasana sore itu tak terasa didalam benaknya beliau memiliki khayalan untuk memindahkan Istananya ke atas awan sana
Beliau berkata dalam hatinya"Tapi apa mungkin kemauanku itu terlaksana"

Tiba tiba beliau teringat pada Abu nawas"ya!bukankah ada Abu nawas yang selalu mempunyai jalan keluar jika aku mempunyai permasalahan?"katanya dalam hati..
Beliaupun latas menyuruh ajudannya untuk segera menjemput Abu nawas tak lama kemudian Abu nawaspun hadir  dihadapan sang raja,dengan kepala tertunduk dan perasaan yang gak menentu akibat berhadapan dengan sang raja yang penuh wibawa,Abu nawas menunggu titah sang raja,kemudian beliaupun berkata

Bainda raja : apakah kamu tau kenapa aku memanggilmu ke sini?

Abu nawas : ampun baginda hamba tidak tau,


Bainda raja : apakah kau lihat awan yang menggantung diluar sana,indah bukan?


Abu nawas : ya, saya bisa melihatnya memang sangat indah Yangmulya

Bainda raja : aku mempunyai keinginan untuk memindahkan istana ini keatas sana apakah kau bisa melaksanakan keinginanku?
Abu nawas pun pulang sambil membawa beban fikiran yang luarbiasa beratnya,dia terus memeras akal bagaimana caranya untuk bisa memenuhi keinginan sang Raja dan sekaligus lepas dari hukuman yang membayanginya,karena menurutnya mustahil dia mampu memindahkan sebuah istana keatas 

awan,jangankan memindahkan sebuah istana, sebutir kerikilpun mustahil berada diatas awan,

Malampun tiba,namun dia belum juga menemukan jalan keluarnya,sampai pagi menjelang dia masih terus memeras akalnya namun sama saja hasilnya mustahil.

Rupanya kabar tentang berita itu sudah tersebar luas ke seluruh peloksok negri,membuat semua penduduk negri itu berbondong2 ingin menyaksikan secara langsung prosesi pemindahan istana raja keatas awan oleh Abu Nawas,

Sore itu cuaca sangatlah cerah,matahari bersinar diufuk barat menyiratkan lembayung berwarna keemasan menerpa istana yang megah dan mewah,
Setelah berpamitan pada sang istri,Abu Nawas pun pergi meninggalkan rumahnya,sepanjang jalan Dia terus memeras akalnya supaya Dia bisa lolos dari dari masalah itu

Tak lama kemudian sampailah Dia didepan istana,ternyata sang Raja bersama ribuan warga telah hadir menantinya,sedikit tak sabar beliau langsung bertanya pada Abu Nawas,"Kau sudah siap?"Abu nawas tak menjawab setengah tak sadar dia cuma bisa duduk diatas tanah dihadapan Raja dan ribuan warga
Dan dikala itulah dia mendapatkan solusinya,lalu kemudian Abu Nawas bangkit dari duduknya Dia mengambil posisi jongkok seperti akan menggendong sesuatu,Sang Raja bertanya lagi "apa kamu sudah siap Abu Nawas?" "SIAP Yang mulya"  "bagus"
Seketika suasana di tempat sunyi senyap,menunggu aksi Abu Nawas yang akan memindahkan istana keatas awan,seluruh pandangan tertuju pada Abu Nawas yang masih dalam posisi jongkok,rupanya sang Raja sudah tak sabar "apakah kamu sudah siap Abu Nawas?"sambil terus jongkok,Abu Nawas menjawab "dari tadi juga hamba sudah siap Yang Mulia, dan hamba menunggu Yang Mulia untuk menaruh istana itu keatas pundak hamba untuk dipindahkan keatas awan sana"

Mendengar itu sontak saja sang Raja kaget,sedikit marah namun tak bisa berbuat apa apa hanya bisa menggerutu"Dasar manusia licik"dalam hatinya mengagumi kecerdikan Abu Nawas.


Abu nawas menecahkan masalah sahabatnya

 sore itu di sebuah warung Abu nawas sedang menikmati secangkir teh hangat,tiba2 Dia melihat temannya datang dengan muka yg masam,seolah sedang memendam kesusahan,diapun duduk di sebelah Abu,,sore ini cuaca sangat cerah,tapi kenapa mukamu tak secerah sore ini?Abu nawas memulai perbincangan,,bulan2 ini istriku mengeluh ttg tempat tinggal kami,sahutnya..,knp,ada apa dengan rumahmu?dia mengeluhkan tempat tinggal kami yg menurutnya terlalu sempit utk kami berempat tinggal,,kenapa tak kau lebarin aja,kata Abu nawas menawarkan saran,,kalau ada uang tentu hal ini takan terjadi keluhnya,,Abu nawas merenung sejenak,dia coba cari akal utk pecahkan masalah sahabatnya,setelah dapat akal diapun berkata:"begini,,apakah kamu punya uang untuk membeli seekor keledai?temannyapun tak lantas menjawabnya dia merasa
 dia tak lantas menjawab pertanyaan abu nawas,karena dia sedikit bingung, apa hubungannya membangun rumah sama beli seekor keledai?tapi dalam hatinya dia yakin pada sahabatnya yg satu ini,karna dia selalu mendapat jalan keluar dari masalah apapun yg ia hadapi,kemudian ia menjawab,: "ya!utk beli seekor keledai saja saya punya,,nah!!belilah olehmu seekor keledai simpan dan uruslah dirumahmu?ia pun tambah bingung,,bagaimana tidak,tanpa seekor keledai aja rumahnya terasa sempit apalagi kalau ada seekor keledai?tapi dia tak berani membantahnya,sekali lagi dia yakin pada sahabatnya,"baiklah saya akan coba saran dari kamu,dibelilah olehnya seekor keledai dan dibawanya pulang,sesampainya di rumah langsung saja dia memasukan keledainya kedalam rumah sesuai saran dari Abunawas,istrinya yg ada didalam rumah terkejut sambil memarahi suaminya,dianggapnya suaminya itu sudah tidak waras"kamu udah gila ya bang!! istrinya memarahi dia,tak sepatah katapun yg keluar dari mulutnya,
 dia sendiri bingung dengan apa yg telah ia lakukan dengan saran dari sahabatnya sendiri,keesokan harinya ia kembali menemui Abu nawas,setelah menceritakan apa yg telah terjadi di rumahnya Abu nawas malah menyarankannya untuk membeli lagi seekor kambing,diapun tambah kebingungan bagaimana tidak, seekor keledai aja sudah sangat merepotkan aplagi kalau harus di tambah lagi seekor kambing,lagi2 dia tdk bisa menolak sarannya karena dia percaya akan kecerdikan sahabatnya itu,dia pun pulang dengan membawa seekor kambing kerumahnya,dapat kita bayangkan apa yg bakal terjadi dirumahnya,untuk kedua kalinya ia kena marah sang istri,apalagi saran yg ketiga ia harus membeli lagi seekor angsa tambah semerawut aja tu rumahnya,

 habislah kesabarannya,ia tidak kuat lagi tinggal bersama hewan2 tsb,dan pergi menemui si pemberi solusi,Abu nawas cuma tersenyu mendengar curhatan sahabatnya seraya berkata,berapa uang yg kamu punya sekarang?tak sepeserpun uang dikantongku katanya,sekarang kamu pulanglah dan jual  keledaimu!!keesokan harinya setelah dia menjual keledainya dia kembali menemui Abu nawas,namun kali ini ada yg berbeda diwajahnya sedikht lebih cerah
Abu nawas : bagaimana keadaan rumahmu sekarang?
sahabatnya : alhamdllh rumahku sekarang terasa sedikit lapang setelah keledainya ku jual..
Abu nawas : nah sekarang kamu jual kambing dan angsanya,,
diapun menuruti kata sahabatnya itu

keesokan harinya.....wajaah dia benar benar sumringah tak ada beban yg tergambar diwajahnya sedikitpun,,dan dia berterimakasih pada Abu nawas sahabatnya akhirnya dia dan istrinya sadar bahwa kelapangan itu ada setelah kita merasakan terlebih dulu kesempitan..

Itulah bagian dari kisah Abu nawas yang baru bisa saya shared buat sobat semua, lain waktu insyallah ana sambung kembali lanjutannya. :)

Hikmah Diam pada Saat yang Tepat

Dikisahkan bahwa ada seorang lelaki miskin yang mencari nafkahnya hanya dengan mengumpulkan kayu bakar lalu menjualnya di pasar. Hasil yang ia dapatkan hanya cukup untuk makan. Bahkan, kadang-kadang tak mencukupi kebutuhannya. Tetapi, ia terkenal sebagai orang yang sabar.
Pada suatu hari, seperti biasanya dia pergi ke hutan untuk mengumpulkan kayu bakar. Setelah cukup lama dia berhasil mengumpulkan sepikul besar kayu bakar. Ia lalu memikulnya di pundaknya sambil berjalan menuju pasar. Setibanya di pasar ternyata orang-orang sangat ramai dan agak berdesakan. Karena khawatir orang-orang akan terkena ujung kayu yang agak runcing, ia lalu berteriak, “Minggir… minggir! kayu bakar mau lewat!.”
Orang-orang pada minggir memberinya jalan dan agar mereka tidak terkena ujung kayu. Sementara, ia terus berteriak mengingatkan orang. Tiba-tiba lewat seorang bangsawan kaya raya di hadapannya tanpa mempedulikan peringatannya. Kontan saja ia kaget sehingga tak sempat menghindarinya. Akibatnya, ujung kayu bakarnya itu tersangkut di baju bangsawan itu dan merobeknya. Bangsawan itu langsung marah-marah kepadanya, dan tak menghiraukan keadaan si penjual kayu bakar itu. Tak puas dengan itu, ia kemudian menyeret lelaki itu ke hadapan hakim. Ia ingin menuntut ganti rugi atas kerusakan bajunya.
Sesampainya di hadapan hakim, orang kaya itu lalu menceritakan kejadiannya serta maksud kedatangannya menghadap dengan si lelaki itu. Hakim itu lalu berkata, “Mungkin ia tidak sengaja.” Bangsawan itu membantah. Sementara si lelaki itu diam saja seribu bahasa. Setelah mengajukan beberapa kemungkinan yang selalu dibantah oleh bangsawan itu, akhirnya hakim mengajukan pertanyaan kepada lelaki tukang kayu bakar itu. Namun, setiap kali hakim itu bertanya, ia tak menjawab sama sekali, ia tetap diam. Setelah beberapa pertanyaan yang tak dijawab berlalu, sang hakim akhirnya berkata pada bangsawan itu, “Mungkin orang ini bisu, sehingga dia tidak bisa memperingatkanmu ketika di pasar tadi.”
Bangsawan itu agak geram mendengar perkataan hakim itu. Ia lalu berkata, “Tidak mungkin! Ia tidak bisu wahai hakim. Aku mendengarnya berteriak di pasar tadi. Tidak mungkin sekarang ia bisu!” dengan nada sedikit emosi. “Pokoknya saya tetap minta ganti,” lanjutnya.
Dengan tenang sambil tersenyum, sang hakim berkata, “Kalau engkau mendengar teriakannya, mengapa engkau tidak minggir?” Jika ia sudah memperingatkan, berarti ia tidak bersalah. Anda yang kurang memperdulikan peringatannya.”
Mendengar keputusan hakim itu, bangsawan itu hanya bisa diam dan bingung. Ia baru menyadari ucapannya ternyata menjadi bumerang baginya. Akhirnya ia pun pergi. Dan, lelaki tukang kayu bakar itu pun pergi. Ia selamat dari tuduhan dan tuntutan bangsawan itu dengan hanya diam.

Gelar Buat Ali bin Abi Thalib

Pada suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyatakan bahwa dirinya diibaratkan sebagai kota ilmu, sementara Ali bin Abi Thalib adalah gerbangnya ilmu. Mendengar pernyataan yang demikian, sekelompok kaum Khawarij tidak mempercayainya. Mereka tidak percaya, apa benar Ali bin Abi Thalib cukup pandai sehingga ia mendapat julukan “gerbang ilmu” dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Berkumpullah sepuluh orang dari kaum Khawarij. Kemudian mereka bermusyawarah untuk menguji kebenaran pernyataan Rasulullah tersebut. Seorang di antara mereka berkata, “Mari sekarang kita tanyakan pada Ali tentang suatu masalah saja. Bagaimana jawaban Ali tentang masalah itu. Kita bisa menilai seberapa jauh kepandaiannya. Bagaimana? Apakah kalian setuju?”
“Setuju!” jawab mereka serentak.
“Tetapi sebaiknya kita bertanya secara bergiliran saja”, saran yang lain. “Dengan begitu kita dapat mencari kelemahan Ali. Namun bila jawaban Ali nanti selalu berbeda-beda, barulah kita percaya bahwa memang Ali adalah orang yang cerdas.”
“Baik juga saranmu itu. Mari kita laksanakan!” sahut yang lainnya.
Hari yang telah ditentukan telah tiba. Orang pertama datang menemui Ali lantas bertanya, “Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?”
“Tentu saja lebih utama ilmu,” jawab Ali tegas.
“Ilmu adalah warisan para Nabi dan Rasul, sedangkan harta adalah warisan Qarun, Fir’aun, Namrud dan lain-lainnya,” Ali menerangkan.
Setelah mendengan jawaban Ali yang demikian, orang itu kemudian mohon diri. Tak lama kemudian datang orang kedua dan bertanya kepada Ali dengan pertanyaan yang sama. “Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?”
“Lebih utama ilmu dibanding harta,” jawab Ali.
“Mengapa?”
“Karena ilmu akan menjaga dirimu, sementara harta malah sebaliknya, engkau harus menjaganya.”
Orang kedua itu pun pergi setelah mendengar jawaban Ali seperti itu. Orang ketiga pun datang menyusul dan bertanya seperti orang sebelumnya.
“Bagaimana pendapat tuan bila ilmu dibandingkan dengan harta?”
Ali kemudian menjawab bahwa, “Harta lebih rendah dibandingkan dengan ilmu?”
“Mengapa bisa demikian tuan?” tanya orang itu penasaran.
“Sebab orang yang mempunyai banyak harta akan mempunyai banyak musuh. Sedangkan orang yang kaya ilmu akan banyak orang yang menyayanginya dan hormat kepadanya.”
Setelah orang itu pergi, tak lama kemudian orang keempat pun datang dan menanyakan permasalahan yang sama. Setelah mendengar pertanyaan yang diajukan oleh orang itu, Ali pun kemudian menjawab, “Ya, jelas-jelas lebih utama ilmu.”
“Apa yang menyebabkan demikian?” tanya orang itu mendesak.
“Karena bila engkau pergunakan harta,” jawab Ali, “jelas-jelas harta akan semakin berkurang. Namun bila ilmu yang engkau pergunakan, maka akan semakin bertambah banyak.”
Orang kelima kemudian datang setelah kepergian orang keempat dari hadapan Ali. Ketika menjawab pertanyaan orang ini, Ali pun menerangkan, “Jika pemilik harta ada yang menyebutnya pelit, sedangkan pemilik ilmu akan dihargai dan disegani.”
Orang keenam lalu menjumpai Ali dengan pertanyaan yang sama pula. Namun tetap saja Ali mengemukakan alasan yang berbeda. Jawaban Ali tersebut ialah, “Harta akan selalu dijaga dari kejahatan, sedangkan ilmu tidak usah dijaga dari kejahatan, lagi pula ilmu akan menjagamu.”
Dengan pertanyaan yang sama orang ketujuh datang kepada Ali. Pertanyaan itu kemudian dijawab Ali, “Pemilik ilmu akan diberi syafa’at oleh Allah Subhaanahu wa Ta’ala di hari kiamat nanti, sementara pemilik harta akan dihisab oleh Allah kelak.”
Kemudian kesepuluh orang itu berkumpul lagi. Mereka yang sudah bertanya kepada Ali mengutarakan jawaban yang diberikan Ali. Mereka tak menduga setelah mendengar setiap jawaban, ternyata alasan yang diberikan Ali selalu berbeda. Sekarang tinggal tiga orang yang belum melaksanakan tugasnya. Mereka yakin bahwa tiga orang itu akan bisa mencari celah kelemahan Ali. Sebab ketiga orang itu dianggap yang paling pandai di antara mereka.
Orang kedelapan menghadap Ali lantas bertanya, “Antara ilmu dan harta, manakah yang lebih utama wahai Ali?”
“Tentunya lebih utama dan lebih penting ilmu,” jawab Ali.
“Kenapa begitu?” tanyanya lagi.
“Dalam waktu yang lama,” kata Ali menerangkan, “harta akan habis, sedangkan ilmu malah sebaliknya, ilmu akan abadi.”
Orang kesembilan datang dengan pertanyaan tersebut. “Seseorang yang banyak harta”, jawab Ali pada orang ini, “akan dijunjung tinggi hanya karena hartanya. Sedangkan orang yang kaya ilmu dianggap intelektual.”
Sampailah giliran orang terakhir. Ia pun bertanya pada Ali hal yang sama. Ali menjawab, “Harta akan membuatmu tidak tenang dengan kata lain akan mengeraskan hatimu. Tetapi, ilmu sebaliknya, akan menyinari hatimu hingga hatimu akan menjadi terang dan tentram karenanya.”
Ali pun kemudian menyadari bahwa dirinya telah diuji oleh orang-orang itu. Sehingga dia berkata, “Andaikata engkau datangkan semua orang untuk bertanya, insya Allah akan aku jawab dengan jawaban yang berbeda-beda pula, selagi aku masih hidup.”
Kesepuluh orang itu akhirnya menyerah. Mereka percaya bahwa apa yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas adalah benar adanya. Dan ali memang pantas mendapat julukan “gerbang ilmu”. Sedang mengenai diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah tidak perlu diragukan lagi.

Khalifah Umar dan Keadilan

Suatu ketika Umar bin Khattab sedang berkhotbah di masjid di kota Madinah tentang keadilan dalam pemerintahan Islam. Pada saat itu muncul seorang lelaki asing dalam masjid , sehingga Umar menghentikan khotbahnya sejenak, kemudian ia melanjutkan.
“Sesungguhnya seorang pemimpin itu diangkat dari antara kalian bukan dari bangsa lain. Pemimpin itu harus berbuat untuk kepentingan kalian, bukan untuk kepentingan dirinya, golongannya, dan bukan untuk menindas kaum lemah. Demi Allah, apabila ada di antara pemimpin dari kamu sekalian menindas yang lemah, maka kepada orang yang ditindas itu diberikan haknya untuk membalas pemimpin itu. Begitu pula jika seorang pemimpin di antara kamu sekalian menghina seseorang di hadapan umum, maka kepada orang itu harus diberikan haknya untuk membalas hal yang setimpal.”
Selesai khalifah berkhotbah, tiba-tiba lelaki asing tadi bangkit seraya berkata; “Ya Amiirul Mu’minin, saya datang dari Mesir dengan menembus padang pasir yang luas dan tandus, serta menuruni lembah yang curam. Semua ini hanya dengan satu tujuan, yakni ingin bertemu dengan Tuan.”
“Katakanlah apa tujuanmu bertemu denganku,” ujar Umar.
“Saya telah dihina di hadapan orang banyak oleh ‘Amr bin ‘Ash, gubernur Mesir. Dan sekarang saya akan menuntutnya dengan hukum yang sama.”
“Ya saudaraku, benarkah apa yang telah engkau katakan itu?” tanya khalifah Umar ragu-ragu.
“Ya Amiirul Mu’minin, benar adanya.”
“Baiklah, kepadamu aku berikan hak yang sama untuk menuntut balas. Tetapi, engkau harus mengajukan empat orang saksi, dan kepada ‘Amr aku berikan dua orang pembela. Jika tidak ada yang membela gubernur, maka kau dapat melaksanakan balasan dengan memukulnya 40 kali.”
“Baik ya Amiirul Mu’minin. Akan saya laksanakan semua itu,” jawab orang itu seraya berlalu. Ia langsung kembali ke Mesir untuk menemui gubernur Mesir ‘Amr bin ‘Ash.
Ketika sampai ia langsung mengutarakan maksud dan keperluannya.
“Ya ‘Amr, sesungguhnya seorang pemimpin diangkat oleh rakyat, dari rakyat, dan untuk rakyat. Dia diangkat bukan untuk golongannya, bukan untuk bertindak sewenang-wenang terhadap rakyatnya, dan bukan pula untuk menindas yang lemah dan mengambil hak yang bukan miliknya. Khalifar Umar telah memberi izin kepada saya untuk memperoleh hak saya di muka umum.”
“Apakah kamu akan menuntut gubernur?” tanya salah seorang yang hadir.
“Ya, demi kebenaran akan saya tuntut dia,” jawab lelaki itu tegas.
“Tetapi, dia kan gubernur kita?”
“Seandainya yang menghina itu Amiirul Mu’minin, saya juga akan menuntutnya.”
“Ya, saudara-saudaraku. Demi Allah, aku minta kepada kalian yang mendengar dan melihat kejadian itu agar berdiri.”
Maka banyaklah yang berdiri.
“Apakah kamu akan memukul gubernur?” tanya mereka.
“Ya, demi Allah saya akan memukul dia sebanyak 40 kali.”
“Tukar saja dengan uang sebagai pengganti pukulan itu.”
“Tidak, walaupun seluruh masjid ini berisi perhiasan aku tidak akan melepaskan hak itu,” jawabnya .
“Baiklah, mungkin engkau lebih suka demi kebaikan nama gubernur kita, di antara kami mau jadi penggantinya,” bujuk mereka.
“Saya tidak suka pengganti.”
“Kau memang keras kepala, tidak mendengar dan tidak suka usulan kami sedikit pun.”
“Demi Allah, umat Islam tidak akan maju bila terus begini. Mereka membela pemimpinnya yang salah dengan gigih karena khawatir akan dihukum,” ujarnya seraya meninggalkan tempat.
‘Amr bin’Ash serta merta menyuruh anak buahnya untuk memanggil orang itu. Ia menyadari hukuman Allah di akhirat tetap akan menimpanya walaupun ia selamat di dunia.
“Ini rotan, ambillah! Laksanakanlah hakmu,” kata gubernur ‘Amr bin ‘Ash sambil membungkukkan badannya siap menerima hukuman balasan.
“Apakah dengan kedudukanmu sekarang ini engkau merasa mampu untuk menghindari hukuman ini?” tanya lelaki itu.
“Tidak, jalankan saja keinginanmu itu,” jawab gubernur.
“Tidak, sekarang aku memaafkanmu,” kata lelaki itu seraya memeluk gubernur Mesir itu sebagai tanda persaudaraan. Dan rotan pun ia lemparkan.

Tetangga yang Baik

          Diriwayatkan dari Sahal bin Abdillah rahimahullah, bahwa dia mempunyai seorang tetangga yang merupakan orang dzimmiy (orang non-muslim yang tinggal di wilayah Islam, memiliki hak keamanan harta dan jiwa dengan membayar jizyah). Dan dari rumah orang dzimmiy itu ada kebocoran yang menimbulkan tetesan air ke rumah Sahal.
Setiap hari Sahal menampung air bocoran itu di dalam suatu wadah agar tidak menyebar di rumahnya. Jika telah penuh Sahal membuangnya pada malam hari agar tidak dilihat oleh orang. Keadaan itu terus berlangsung lama sampai ketika ajal sudah mendatangi Sahal.
Lalu tetangganya yang dzimiiy Majusi itu datang menjenguknya ketika ia sedang sakit menjelang meninggalnya. Sahal menyuruhnya masuk ke sebuah ruangan di rumahnya agar tetangganya itu melihat apa yang terjadi di dalamnya. Begitu Majusi itu masuk, ia langsung melihat adanya kebocoran dari rumahnya dan airnya menetes ke rumah Sahal. Ia paham, hal ini tentu saja mengganggu Sahal. Ia kemudian bertanya, “Apa sebenarnya yang kulihat ini?”
Sahal berkata, “Hal ini sudah berlangsung lama, air menetes dari rumahmu ke rumahku ini. Dan saya menampungnya di siang hari, kemudian membuangnya pada malam hari. Kalaulah bukan karena ajalku telah tiba, dan aku takut orang lain tidak sanggup menerima keadaan ini, aku tidak akan memberitahukan hal ini kepadamu. Makanya aku melakukan hal telah kau lihat ini.”
Orang Majusi itu berkata: “Wahai Syekh! Engkau telah memperlakukan aku dengan toleransi tinggi seperti ini, sedangkan saya tetap saja memegang kekufuranku. Tolong julurkanlah tangan anda, inilah saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah (Asyhadu anlaa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah). Setelah itu Sahal kemudian meninggal.

MELACAK JEJAK KERAJAAN TALAGA: TOPONOMI AREA SEKITAR SITU SANGIANG

Ini satu “page” lain berkenaan dengan Kerajaan Talaga. Kerajaan Talaga amat miskin dengan tinggalan sejarah yang berupa artefak atau “prasasti” dan sumber tulisan lainnya. Dua saja yang setidaknya sudah meyakinkan saya. Pertama, Wawacan Bujangga Manik yang menyebut “dayeuh” (kota) Walang Suji dan “nama kerajaan” alas Talaga, dengan anggapan dasar (asumsi) Prabu Jaya Pakuan yang bersembunyi dalam alias Bujangga Manik itu benar-benar mendeskripsikan (memaparkan) topografi (sebutan-sebutan daerah) sebagaimana adanya. Tidak ada unsur subjektivitas di dalamnya, karena hanya menyebutkan saja.
Kedua, tulisan Pauline C.M. Lunsingh Scheurleer dan Marijke J. Klokke, “Ancient Indonesia Bronzes: A Catalogue of the Exhibition in the Rijkmuseum,” 1988. Scheurleer dan Klokke menampilkan gambar patung Bodhisattwa dalam bentuk Vajrapani (Wajrapani, Bajrapani)  yang dengan tegas disebutnya berasal dari Talaga, Cheribon. Patung perunggu Budha dalam posisi Wajrapani setinggi 21 cm. itu telah saya muat gambarnya–dengan bantuan Sdr. Didik Kurniawan, SPd., staf pengelola website FIP UNY– dalam page “Kerajaan Talaga: Melacak Jejak Bujangga Manik” dari blog ini.
Yang mengundang kepenasaran saya adalah di mana sejatinya letak Kerajaan Talaga itu. Beberapa nama daerah (desa, kampung, dusun) di sekitar Situ Sangiang, Talaga, Majalengka, sejauh yang bisa terlacak lewat “google map” dan blog “adik-adik urang Talaga,” dan berbagai berita online tentan Talaga, membuat saya penasarana untuk mencoba mnelaahnya. Saiapa tahu agak benar. Makanya dimuat dalam “kontroversi” ini, karena saya benar-benar hanya menebak-tebak.
Pertama, Sunia. Sunia berada di sebelah selatan Situ Sangiang. Salah satu “putri” Talaga diberi nama Sunyalarang. Sunia (sunya, sonya) itu artinya sunyi, sepi. Larang itu terlarang (dimasuki), menyepi, atau suci. Entah kenapa nama desa itu hanya Sunia, tidak Sunyalarang. Di desa itu ada kolam pemandian yang bernama Sunyalarang dan Sunyantaka. Sunyantaka juga nama dari pemakaman (astana) yang ada di perbukitan (pasir) desa Sunia. Sunya artinya sepi, sunyi, hening, dan “antaka” artinya pencabut nyawa atau kematian. Sunyantaka artinya tempat orang-orang yang sudah meninggal yang diharapkan jiwanya berada dalam ketenangan.
Dalam kaitan dengan Kerajaan Talaga, desa Sunia ini dahulunya menjadi apa, atau sebagai wilayah apa, itu yang masih harus dilacak lebih lanjut. Setidaknya, “putri” Sunyalarang ada kemungkinan pernah bermukim di sini, entah lahir , dibesarkan, atau dididik. Entah kenapa pula kemudian ketika menjadi “ratu” Talaga bergelar Ratu Parung, ratu yang berasal atau memimpin daerah “parung,” wilayah dekat sungai yang ada bagian dangkalnya (jika hamparan pasir dan menonjol di sungai disebut “gasung” atau “gasong”).
Kedua, Darmalarang. Seperti telah disebutkan “larang” itu dapat mengandung arti suci. Darmalarang sama makna dengan Darmasuci. Darmasuci adalah nama salah satu “bagawan Budha” cikal bakal raja-raja Kerajaan Talaga. Bagawan Darmasuci I, dengan demikian, diduga membuat padepokan di Darmalarang. Di dekat desa Darmalarang itu ada nama lain (jika orang menulis di “google map” benar, yaitu Regamaya. Regamaya dapat berasal dari kata “arga” (gunung) dan “maya” (tak nyata). Itu gunung tapi bukan gunung, atau gunung tempat berkomunikasi dengan alam maya? Adakah kemungkinannya dari “argamahayana”? Atau dari “arga mahawijaya” (gunung kemahadigjayaan) seperti Talaga “Rana Mahawijaya” (kedigjayaan dalam peperangan) yang konon berubah jdi “Ranca Maya”?
Masih di dekatnya ada desa Ganeas. Ini agak menyulitkan. Kenapa tidak Ganesa? Lagi-lagi kemungkinannya dari “arga” dan “neas”(?). Apa itu “neas”? Jangan-jangan aslinya dari kata “niwesa” yang berarti tempat tinggal atau “kampus” (padepokan). Arganiwesa artinya bukit tempat padepokan atau asrama. Untuk siapa? Murid-murid Darmasuci I. Kata yang lebniuh dekat lagi adalah “nyasa” yang mengandung arti persiapan atau rencana, dan juga berarti gedung. Pertanyaannya, apakah itu dari kata “arganyasa” (bukit yang ada gedungnya), ataukah “grhanyasa” (rumah gedung). Tapi itu jadi dobel kata “rumah,” dan lagi pula grha itu biasanya berubah jadi “gara” seperti Garawastu (grhavastu) yang berarti tempat (“vastu” artinya tempat)  rumah-rumah alias kompleks perumahan.
Nah, sementara itu dulu. Sambil terus akan dilacak “nama-nama aneh” di sekitar Talaga. Ada yang mau nyambung info?
SUMBER: http://tatangmanguny.wordpress.com/kerajaan-talaga/kerajaan-talaga-melacak-jejak-bujangga-manik-5/

Ayat Kursi Untuk Menolak Hipnotis

Tekhnik-tekhnik hipnotis massal 'ala Hitler untuk mengendalikan Massa dengan menggunakan tekhnik hasutan, fitnah, propaganda, serta penyebaran informasi dan berita palsu yang dilakukan secara terstruktur sistematis dan masive yang biasanya digunakan oleh agen-agen rahasia barat sebagai taktik dan strategi pengendalian massa. Sampai saat ini, saya amati masihlah digunakan oleh sebagian orang dari golongan Islam Radikal yang memodel Strategi ini dari Guru Perang Mereka yaitu Orang Barat. Dan saya amati pula, hal itu juga masih cukup efektif untuk mempengaruhi dan mengendalikan massa umat Islam yang berhaluan radikal. Sungguh sangat disayangkan bila sebuah kebenaran ditegakkan dengan cara-cara yang tidak benar.

Orang-orang Islam yang fanatis dan radikal ini juga melakukan Strategi Taktis yang sama dalam menghadapi Hipnosis & Hipnoterapi. Biasanya mereka akan mendasarkan penilaian mereka hanya berdasarkan ilmu katanya, katanya A begini, katanya B begitu, dan lain sebagainya... Dan dari sumber berita "katanya" itu, kemudian mereka membuat Hujjah. Tanpa merasa perlu bertabayun, mencari kebenaran secara langsung dengan mengundang orang-orang yang ahli di bidang hipnosis & hipnoterapi. Padahal ada Ratusan dan bahkan ribuan akademisi yang sekaligus sebagai seorang praktisi Hipnosis & hipnoterapi. Dan mereka ini akan dengan senang hati, bila di undang untuk melakukan diskusi terkait dengan hipnosis dan hipnoterapi.

Namun, mereka tidak mau menggunakan cara itu. Karena spirit yang ada di dalam diri mereka bukanlah spirit menegakkan kebenaran, Tetapi Spirit Perang, Spirit untuk memenangkan ide serta pendapatnya sendiri. Spirit untuk mengamankan kepentingan kelompok dan golongannya. Spirit Persaingan dan kompetisi.

Dengan demikian, bagi mereka kebenaran itu tidaklah penting. Karena yang terpenting bagi mereka adalah pembenaran.  Dan berikut ini adalah Hujjah-hujjah yang biasanya mereka lancarkan untuk menjatuhkan Hipnosis & Hipnoterapi.

Ayat Kursi Untuk Menolak Hipnotis

Saya pernah membaca sebuah kisah dari seorang muslim yang belajar di luar negeri, dimana di Universitas sering diadakan acara hipnotis. Singkat cerita muslim tersebut ingin meyakinkan bahwa hipnotis ini dari syetan maka dia mencoba untuk menjadi relawan untuk dihipnotis. Ketika detik-detik mau dihipnotis dia terus menerus membaca ayat kursi sehingga akhirnya penghipnotis ini pun gagal dalam menghipnotis dia.
Jawaban Saya :
Hipnosis & Hipnoterapi hanya bisa dilakukan jika yang bersangkutan bersedia untuk dihipnosis. Karena sebuah sesi hipnosis hakikatnya adalah sebuah proses untuk membimbing atau memandu seseorang memasuki pikiran bawah sadarnya. Oleh karena itu, subjek harus mengizinkan, serta fokus dalam menerima panduan yang diberikan.

Sebab itu, Jangankan membaca Ayat Kursi, membaca Koran, komik, menyanyi, bergurau atau apapun yang dapat mengurangi konsentrasinya dapat membatalkan proses ini.

Sebenarnya untuk menolak hipnoterapi tidak harus membaca apapun, niatkan atau katakan saja dalam hati bahwa anda tidak percaya dan menolak semua saran serta sugesti yang diberikan, maka itu sudah cukup untuk  mementahkan sebuah proses hipnosis & hipnoterapi.

Hipnotis Menggunakan Kekuatan Jin.
Saya juga pernah membaca Fatwa yang menyatakan bahwa :
Hipnotis (التنويم المغناطيسي أو التنويم الإيحائي) adalah termasuk jenis sihir, dimana penghipnotis meminta bantuan jin dalam melaksanakan aksinya. Dan jin akan membantu setelah penghipnotis tersebut mau berbuat syirik atau kekufuran.
Jawaban Saya : 
Mulai sejak pertama kali saya berkenalan dengan hipnosis, sehingga saya menjadi seorang pengajar dalam bidang hipnosis dan hipnoterapi. Tidak pernah sekalipun saya menjumpai ada tekhnik hipnosis dan hipnoterapi yang mengajarkan untuk bekerja sama dengan jin dan setan. Jadi, menurut saya. Semua tuduhan itu adalah sungguh mengada-ada belaka. Dan tidak sesuai dengan fakta dan realita yang sebenarnya.

Hipnoterapi diakui oleh WHO sebagai salah satu bagian dari terapi kejiwaan, yang prosesnya adalah memberi saran-saran positif dengan penuh konsentrasi (khusuk) maka standar kesembuhannya juga mengacu pada standar WHO dimana manusia dikatakan sehat jika telah baik secara fisik, mental, social dan SPIRITUAL.

Hipnoterapi yang dikembangkan oleh Milton H. Erickson sejak tahun 1950 telah diterima oleh Asosiasi Medis Amerika sebagai bagian dari ilmu jiwa dan tidak pernah mengajarkan untuk bekerjasama dengan jin dan sejenisnya. Jadi sangatlah berlebihan atau bisa menjadi fitnah jika hipnoterapi dikatakan sebagai ilmu klenik, perdukunan, sihir dan sebagainya.

Dan bahkan, dari kesimpulan yang saya peroleh setelah mempelajari keilmuan ini. Para ahli psikologi dan juga psikoterapis cenderung menyatakan bahwa semua fenomena metafisik itu tidak lebih hanyalah sebagai hasil ilusi dan imajinasi dari pikiran manusianya itu sendiri. Dan dengan tekhnik-tekhnik psikoterapi biasa, seseorang yang di duga terkena penyakit gangguan jin bahkan dapat disembuhkan dengan tuntas tanpa perlu melakukan ritual yang aneh-aneh, apalagi sampai menyimpang dari ajaran agama.

Efektifitas Hipnoterapi yang seperti inilah, yang sebenarnya ditakuti oleh sebagian orang yang radikal. Sehingga menganggap hipnoterapi sebagai pesaing bagi mereka. Dan kemudian demi menjatuhkan Hipnosis dan hipnoterapi, mereka akan melancarkan hujjah-hujah seperti di atas tadi.

Dan ajaibnya, walau sudah dijelaskan dan diberikan jawaban dengan sangat ilmiah dan jelas sekalipun. Mereka biasanya akan tetap ngotot dengan segala tuduhan serta prasangkanya.  Sungguh sangat disayangkan, bila sebuah kebenaran ditegakkan dengan cara-cara yang tidak benar dan lebih mengutamakan Nafsu. daripada kebenaran. Sehingga mereka dibutakan oleh Allah dari kemampuan untuk melihat bahwa sesungguhnya Tanda-tanda kebesaran Allah itu sangatlah banyak di alam semesta ini.

Kebenaran dari Allah swt itu Mutlak kebenarannya, tetapi kebenaran dari seorang Hamba Allah (Manusia), itu tidaklah mutlak kebenarannya. Karena kemampuan manusia yang terbatas, tidak akan sanggup menampung semua ilmu-ilmu Allah secara sempurna... Oleh sebab itu, sungguh sangatlah sombong bila seorang manusia merasa sebagai satu-satunya orang yang paling benar yang ada di muka bumi ini.

والله أعلمُ بالـصـواب

Referensi pertanyaan : Tanya Jawab Agama Islam 

Berminat Untuk lebih memahami apa itu Hipnosis dan Hipnoterapi, silahkan baca informasinya di sini : http://x2t.com/Hipnoterapi